Tentang Saya

Tentang Saya

Saya, Nada Etika Hapsari, lahir di Pekalongan pada 9 April 2002. Sejak kecil saya tumbuh dalam lingkungan yang sarat nilai budaya dan pendidikan. Perjalanan belajar saya dimulai dari SD hingga SMA di Pekalongan, lalu berlanjut ke perguruan tinggi di Semarang tepatnya di Universitas PGRI Semarang. Sebagai anak bungsu, saya terbiasa mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman belajar dan kegiatan yang memperkaya wawasan serta membentuk karakter. Sejak duduk di bangku kelas 2 SD, saya mulai mengenal dunia tari melalui kegiatan seleksi di tingkat sekolah dan pembelajaran privat. Ketertarikan ini kemudian berkembang ketika saya bergabung dengan Sanggar Tari Putri Srikandi pada masa SMA. Dari sana, saya mendapat kesempatan mengikuti berbagai festival tari di tingkat kabupaten, beberapa kali turut mewakili daerah, dan dalam salah satu kesempatan memperoleh penghargaan tingkat kabupaten yang menjadi pengalaman berharga. Selain itu, saya pernah dipercaya memimpin ekstrakurikuler tari di SMA, yang membantu saya belajar berorganisasi sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab. Pengalaman dalam dunia tari tidak hanya memperkaya keterampilan seni, tetapi juga menumbuhkan kepekaan budaya, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan saya sebagai calon guru, karena mendidik bukan hanya soal menyampaikan materi, melainkan juga membangun karakter, menumbuhkan semangat, dan menginspirasi peserta didik melalui berbagai cara. Saat ini saya mengikuti Program PPG Calon Guru 2026, dengan tekad untuk menjadi guru profesional yang berkompeten, berintegritas, dan mampu menginspirasi peserta didik. Bagi saya, profesi guru adalah panggilan hati untuk mendidik sekaligus menumbuhkan semangat belajar yang bermakna. Sebagai penutup, saya percaya bahwa: “Menjadi guru berarti menanamkan ilmu sekaligus menumbuhkan harapan bagi masa depan.”

Keunikan Daerah Asal

Keunikan Daerah Asal

Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik Dunia, dengan corak pesisir yang penuh warna dan terbuka terhadap pengaruh budaya luar. Kekayaan budaya ini tidak hanya tercermin dalam batik, tetapi juga dalam seni pertunjukan yang tumbuh subur di tengah masyarakat. Seni tari menjadi salah satu kebanggaan daerah, terbukti dari berbagai prestasi yang diraih. Tari Sintren dan Tari Batik Kedungwuni, misalnya, telah dipromosikan hingga ke UNESCO sebagai warisan budaya, sementara kelompok-kelompok tari dari Pekalongan kerap menorehkan pencapaian di ajang nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Pekalongan memiliki kontribusi nyata dalam menjaga sekaligus mengembangkan seni tari sebagai identitas budaya Jawa Tengah. Dalam suasana budaya yang kaya itu, sejak kecil saya mulai menekuni tari melalui kegiatan di sekolah dasar dan pembelajaran privat. Ketertarikan ini semakin terarah ketika saya bergabung dengan Sanggar Tari Putri Srikandi pada masa SMA. Dari sana, saya mendapat kesempatan mengikuti berbagai festival tari di tingkat kabupaten, sekaligus turut serta dalam Parade Seni Jawa Tengah, sebuah ajang tahunan yang diikuti oleh delegasi seni dari seluruh daerah di Jawa Tengah. Pada kesempatan itu, saya menjadi bagian dari delegasi Kabupaten Pekalongan tampil di Wonogiri dan Pemalang. Pengalaman seni tari yang tumbuh dari akar budaya Pekalongan ini tidak hanya memperkaya keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai kreativitas, kebersamaan, dan kepekaan budaya. Sejalan dengan prestasi tari Pekalongan yang telah diakui hingga tingkat nasional dan internasional, perjalanan saya dalam seni tari menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya sumber inspirasi. Dari pengalaman itu pula saya belajar bahwa mendidik bukan hanya soal menyampaikan ilmu, melainkan juga menumbuhkan semangat, membangun karakter, dan menghidupkan nilai budaya dalam diri peserta didik.

Inspirasi dan Tujuan Menjadi Guru Profesional

Inspirasi dan Tujuan Menjadi Guru Profesional

Sejak masa sekolah, saya banyak melalui pengalaman belajar yang berkesan. Dari setiap proses itu, saya menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh hasil akhir, melainkan oleh perjalanan yang dijalani. Dalam setiap langkah belajar, selalu ada sosok guru yang hadir mendampingi. Guru bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga memberi dorongan, membimbing, dan menumbuhkan semangat agar murid mampu berkembang dengan baik. Dari pengalaman itulah tumbuh keinginan kuat dalam diri saya untuk menjadi seorang guru. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, saya menempuh pendidikan di jurusan kependidikan agar memahami arah dan proses seorang guru dalam menjalankan tugas mulia. Selama kuliah, saya aktif mengikuti program mengajar seperti PLP, Kampus Mengajar, dan microteaching. Dari kegiatan itu, saya belajar membuat media pembelajaran yang menarik, baik digital seperti Kahoot dan Quizizz, maupun manual seperti papan permainan edukatif. Saya juga mendalami berbagai pendekatan pembelajaran, mulai dari deep learning, kontekstual, hingga CTL dengan model PBL dan PJBL, sesuai kebutuhan siswa. Pengalaman tersebut membuat saya melihat bagaimana siswa menjadi lebih antusias, aktif, dan memahami materi dengan baik karena pembelajaran disesuaikan dengan gaya belajar mereka audio, visual, maupun kinestetik. Dari sini saya semakin yakin bahwa peran guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga memotivasi, menginspirasi, dan menumbuhkan semangat belajar. Bagi saya, menjadi guru berarti menyalakan api keinginan dalam diri siswa agar mereka terus berinovasi dan berkembang.